MUHAMMAD AJI SAKA SANG RATU DARAH PUTIH

Muhammad Aji Saka berasal dari Keratuan Pugung Lampung Timur,beliau merupakan cucu dari pemimpin keratuan pugung yang bernama Khatu Galuh. sebelum nya khatu galuh adalah penganut agama hindu, namun setelah datang nya Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dari pulau jawa, khatu pugung dan masyarakat nya bersedia memeluk agama Islam.
Ada mitos yang beredar bahwa sunan gunung jati datang ke lampung bukan hanya menyebarkan agama Islam saja, namun karna beliau pernah melihat sinar/cahaya putih dari bumi lurus menuju langit, dan cahaya tersebut diperkirakan dari lampung bagian timur. beliau percaya bahwa cahaya tersebut adalah pertanda baik baginya, dalam hal ini yang dimaksud adalah beliau akan mendapat keturunan yang baik dari sana.

Setelah keratuan pugung memeluk islam, khatu pugung yang kagum akan sosok sunan gunung jati berniat untuk menikah kan putri nya yang bernama Putri Sinar Kaca, dengan senang hati sunan gunung jati menerima niat baik khatu pugung tersebut, karena sebelum nya sunan gunung jati memang sudah diberi firasat dan pertanda tentang itu. mereka dikaruniai seorang putra dan diberi nama Minak Gejala Bidin, beliau inilah cikal bakal pendiri Keratuan Melinting.

Karena tugas seorang wali Allah, tentu beliau selalu melakukan perjalan-perjalanan ke daerah untuk berdakwah dan menyebarkan agama islam, suatu waktu beliau sedang tidak berada di daerah keratuan pugung, beliau melihat cahaya serupa ditempat sama yang dulu pernah dilihat, beliau pun heran kenapa pertanda itu kembali terlihat, sedangkan ia sudah menikahi putri yang menjadi pertanda tersebut.

Sunan pun kembali ke Keratuan pugung, dan ia menceritakan pertanda tersebut terhadap khatu pugung, setelah mendengar penjelasan tersebut khatu pugung pun memanggil Putri nya yang bernama Putri Sinar Alam seraya berkata "mungkin putri ku yang satu inilah pertanda yang kau lihat
maka Sunan Gunung Jati dan Putri Sinar Alam pun dinikah kan dan di karuniai seorang putra yang bernama Minak Gejala Khatu dan merupakan cikal bakal pendiri Keratuan Darah Putih.

Setelah beberapa waktu, sunan gunung jati kembali ke pulau jawa untuk melanjutkat misi nya sebagai wali dan beliau berwasiat kepada kedua istri nya bahwa kedua putra nya yaitu minak gejala bidin dan minak gejala khatu kelak harus menemui di cirebon untuk memperdalam ilmu agama dan mendapat misi.

Singkat cerita minak gejala bidin dan minak gejala khatu tumbuh bersama dan sudah cukup umur untuk melakukan perjalanan seperti yang dipesankan oleh ayah mereka, dengan dibekali ilmu agama dan ilmu bela diri yang cukup mereka pun berangkat membawa beberapa rombongan untuk bertemu ayah nya di pulau jawa dan pimpinan rombongan tersebut adalah minak gejala bidin, namun ditengah perjalanan minak gejala bidin memerintahkan adik nya minak gejala khatu untuk kembali pulang ke keratuan, untuk mengambilkan cindera mata dari  keratuan yang tertinggal. si adik pun mematuhi kakak nya dan segara pulang dengan ditemani beberapa orang, minak gejala bidin beserta rombongan melanjutkan perjalanan dan setelah sampai nya di cirebon, rombongan pun segera disambut oleh pihak kesultanan cirebon dan bertemu langsung dengan ayah nya Sunan Gunung Jati.

Disini nasib minak gejala khatu tidak seberuntung kakak nya, ketika rombongan kakak nya sampai di pulau jawa, mereka langsung dikenali dan disambut hangat oleh masyarakat banten dan cirebon, namun berbeda dengan minak gejala khatu, beliau harus melewati berbagai serangan  dari para jawara sekitar, bahkan terkadang ditertawakan oleh masyarakat sekitar perihal tujuan nya ke tanah cirebon untuk bertemu ayah nya yang bernama Syarif hidayatullah / Sunan gunung jati, masyarakat menganggap nya hanya ngaku-ngaku, bahkan ada yang mempermainkan beliau dengan cara melakukan berbagai tes ilmu kanuragan dll, karena jika benar anak sunan pasti dianggap berilmu tinggi,.

Berita heboh itu pun terdengar oleh pihak kesultanan cirebon, dan beliau ditangkap oleh pasukan cirebon karna dianggap melakukan kekacauan maka beliau di introgasi, namun pihak kesultanan tidak dapat memastikan bahwa minak gejala khatu benar-benar putra dari sunan atau bukan, maka dibawa lah beliau kehadapan sunan gunung jati. dan sunan langsung yang membuktikan kebenaran tersebut dengan cara menorehkan biji padi ke dahi diantara kedua alis minak gejala khatu, dengan berkata " jika torehan ini mengeluarkan darah yang berwarna putih, maka benar kau putra ku, namun jika berwarna merah, maka kau bukan darah daging ku".

 Atas kehendak Allah keajaiban pun muncul dan penghuni istana cirebon dikagetkan oleh mengalirnya darah yang berwarna putih dari dahi minak gejala khatu, maka terbuktilah bahwa beliau benar-benar darah daging syarif hidayatullah / sunan gunung jati,  sejak saat itu Syarif Hidayatullah mengganti nama  Minak Gejala Khatu dengan Muhammad Aji Saka.
Namun karna masyarakat dihebohkan oleh suatu keajaiban yang menakjubkan maka masyarakat menjuluki beliau dengan panggilan sang RATU DARAH PUTIH. 

Komentar

  1. Ditunggu postingan berikut nya

    BalasHapus
  2. menurut Drs. H. Alamsyah, MM (pemerhati sejarah) dari Gunung sugih besar lampung timur, waktu sunan gunung jati mau melawar putri sinar alam itu diantar oleh Tuan Segarit. tks

    BalasHapus
  3. Satu sejarah yang membingungkan. Layak nya cerita anak anak sebelum bobo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada lagi yg lebih membingungkan dan mengada ngada pak, dia biacara sejarah begana begini katanya, tapi ketika ditanya kejelasan mereka berdalih tidak ada bukti dikarenakan gunung meletus.

      Hapus
  4. s3jarah yang dipaksakan
    logika ya
    1. saat minak gejala khatu di tangakap pihak keraton ngapain sunan harus repot2 ngetes pake gabah segala tinggal tanya aja sama minak gejala bidin betulkah dia adiknya.
    dan pasti minak gejala bidin ngasih tau sunan gunung jati kalau adiknya nanti nyusul karna harus ngambil cindra mata
    logika
    2. jaman dulu yg digunain bukan bahasa indonesia seperti sekarang
    mana mungkin udah keluar yang namanya kata darah. coba pelajari lagi munculnya bahasa indonesia tahun berapa bandingkan dengan tahun saat hidupnya sang ratu darah putih/ bahasa melayu kuno nya darah itu apa karna bahasa yg digunakan saat itu kebanyakan melyu kuno belum ada bahasa indon. hehe
    kalo belajar sejarah diteliti yang bener .. sumbernya jangan dari cerita2 aja ditambahin bukti otentik lainnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya rasa jika mau bicara bicara soal logika, amat sangat beda dengan pola pikir manusia jaman skrg.
      jarak tempuh, dulu dengan sekarang berbeda, komunikasi tidak seperti sekarang, kehidupan kerajaan jaman dulu tidak sesantaian seperti sekarang ini yg hanya standby di istana makan enak dll.

      saya rasa sebagai seorang yg menyandang status Wali meskipun seorang raja dia tidak duduk santai menikmati harta, begitupun putra putra. jika mereka hanya duduk diam, misi menyebarkan agama mungkin hanya sebatas cirebon bae kang.

      setiap putra dari wali tsb sudah tentu membantu misi sang wali.

      selalu ada maksud dibalik maksud mas.

      kalo ceritanya seperti yg anda bilang, mungkin kehidupan nya berbeda.

      balik soal logika, kenapa Ratu darah putih tidak diperbolehkan pulang ke Pugung? padahal tanah juga masyarakat nya masih berada disana.

      Selain misi penyebaran agama Kenapa malah di ditugasi menimbang air mana yg berat maka disanalah tempat dia akan mendirikan Keratuan nya.


      masalah bahasa Darah, saya juga kurang paham bahasa Cirebon nya Darah itu apa.
      tapi saya pernah baca dalam perjanjian antara Ratu Darah Putih dengan Pangeran Sabakiking, itu memang bertuliskan Ratu darah putih.. dalam huruf Arab tapi berbahasa logat banten.


      Banyak hal yg tidak masuk akal manusia jaman skrg.
      itu sebab nya Wali itu tidak banyak.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SILSILAH KERATUAN DARAH PUTIH