Langsung ke konten utama

MUHAMMAD AJI SAKA SANG RATU DARAH PUTIH

Keratuan Pugung

Berawal dari Keratuan Pugung Lampung Timur, pemimpin keratuan pugung saat itu bernama Ratu Galuh atau Ratu Pelebuh Kaco disebut Juga Ratu Pugung. Menurut riwayat turun temurun, yang pertama kali memeluk Islam adalah Minak Raja Jalan yang merupakan adik dari Ratu Pugung, saat itu Sunan Gunung Jati dikenal sebagai seorang Tabib bukan sebagai seorang Sultan. Minak Raja Jalan merupakan Ayah dari Putri Kendang Rarang/Putri Sinar Kaca yang dinikahi oleh Sunan Gunung Jati, dan melahirkan Minak Kejalo Bidien cikal bakal Keratuan Maninting (melinting) yang berada di Meringgai.

Untuk meluaskan Syiar islam, maka diperlukan cakupan yang lebih besar pula, maka Sunan Gunung Jati mengarah kepada Ratu Pugung sebagai penguasa Keratuan Pugung, dengan dasar sudah ada ikatan kekerabatan melalui Minak Raja Jalan, maka misi penyebaran Islam pun dapat berjalan lancar hingga akhirnya Ratu Pugung dan masyarakat pun memeluk Islam.

Setelah keratuan pugung memeluk islam, Sunan Gunung jati memberitahukan jati dirinya yang bukan hanya sebagai Tuan Tabib, melainkan merupakan seorang Sultan dari dari Cirebon juga merupakan cucu dari Raja Siliwangi dari pihak Ibu Nyai Rara Santang / Syarifah Mudaim, sedangkan dari pihak Ayah, Sunan Gunung Jati merupakan putra dari Pemimpin di Mesir, Syarif Abdullah yang nasabnya sampai kepada Nabi Muhammad Rasulullah Sulollahu Alaihi Wasallam melalui Husain bin Ali bin abu Thalib.

Dipinangnya Putri Sinar Alam

Sebagai seorang Sultan, Syarif Hidayatullah / Sunan Gunung Jati menghadap Ratu Pugung dengan niat meminang Putri dari Ratu Pugung yang bernama Putri Sinar Alam, setelah dilaksanakannya prosesi adat dengan pesta pernikahan, dari itu dimulailah hubungan kekerabatan antara masyarakat pugung dengan cirebon. dari Sunan Gunung Jati dengan Putri sinar Alam maka lahirlah putera bernamaMuhammad Aji Saka dengan gelar Minak Kejalo Ratu


Minak Kejalo Ratu tumbuh dalam lingkungan Keratuan Pugung tanpa ayahnya Sunan Gunung Jati, karena Sunan Gunung Jati kembali lagi ke pulau jawa untuk memerintah ataupun misi dakwah islam. setelah beranjak dewasa Minak Kejalo Ratu berniat menghadap kepada Ayahnya yaitu Sunan Gunung Jati yang berada dicirebon.  Berbekal ilmu agama dan ilmu bela diri yang cukup Minak Kejalo Ratu pun berangkat bersama beberapa orang hulubalang.


Pembuktian

Perjalanan Minak Kejalo Ratu ketika hendak menemui Ayahnya tidaklah mudah, dizaman itu orang asing sangatlah menarik perhatian jika sedang berada diwilayah baru, dari gaya pakaian yang berbeda, bahasa yang berbeda bahkan warna kulit itu semua membuat orang asing akan sangat menjadi perhatian, maka dalam riwayat turun temurun, bahwa Minak Kejalo Ratu ketika hendak menemui Sunan Gunung Jati banyak banyak melakukan perlawanan dari serangan orang orang yang tidak dikenal, atau dalam istilah saat ini adalah preman sekitar, bahkan sampai pada orang dalem juga pengawal pengawal kesultanan pun turut serta menguji kemampuan Minak Kejalo Ratu, karna sebagian orang menganggap beliau hanya ngaku-ngaku sebagai putra dari Sunan.

Setelah diterima di Cirebon dan bertemu dengan Sunan Gunung Jati, bekal yang dibawa oleh Minak Kejalo Ratu baik obrolan, silsilah keluarga maupun cindera mata semua  memang diketahui oleh Sunan, mungkin karena tidak melihatnya tumbuh besar maka Sunan memang sama sekali tidak mengenali Minak Kejalo Ratu, atas dasar ini dan memang sudah kehendak yang Kuasa, maka sunan bermunajat kepada Allah SWT untuk melakukan Pembuktian dengan menggoreskan mata aji (dahi diantara alis) oleh Sunan Gunung Jati terhadap minak Kejalo Ratu, hal ini dilakukan untuk menghilangkan keraguan Sunan dan sebagai pembuktian apakah Minak Kejalo Ratu benar putera nya atau bukan, Ikrar pembuktian yang dibuat oleh Sunan tersebut adalah, apabila goresan terebut mengeluarkan Darah berwarna Putih, maka Minak Kejalo Ratu adalah benar Puteranya, namun jika darah goresan tersebut berwarna merah pada umumnya, maka Minak Kejalo Ratu bukanlah puteranya. Atas kehendak Allah yang Maha Kuasa, permohonan Sunan kepada Allah untuk pembuktian dengan menorehkan biji padi ke mata ajinya, dan dari dahinya tersebut mengeluarkan darah yang berwarna putih, maka hancurlah keraguan Sunan Gunung Jati terhadap Minak Kejalo Ratu, maka teranglah bahwa Minak Kejalo Ratu adalah Putera dari Sunan Gunung Jati, dan sejak saat itu Minak Kejalo Ratu dikenal dengan nama sang Ratu Darah Putih.

Komentar

  1. Ditunggu postingan berikut nya

    BalasHapus
  2. menurut Drs. H. Alamsyah, MM (pemerhati sejarah) dari Gunung sugih besar lampung timur, waktu sunan gunung jati mau melawar putri sinar alam itu diantar oleh Tuan Segarit. tks

    BalasHapus
  3. Satu sejarah yang membingungkan. Layak nya cerita anak anak sebelum bobo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada lagi yg lebih membingungkan dan mengada ngada pak, dia biacara sejarah begana begini katanya, tapi ketika ditanya kejelasan mereka berdalih tidak ada bukti dikarenakan gunung meletus.

      Hapus
  4. s3jarah yang dipaksakan
    logika ya
    1. saat minak gejala khatu di tangakap pihak keraton ngapain sunan harus repot2 ngetes pake gabah segala tinggal tanya aja sama minak gejala bidin betulkah dia adiknya.
    dan pasti minak gejala bidin ngasih tau sunan gunung jati kalau adiknya nanti nyusul karna harus ngambil cindra mata
    logika
    2. jaman dulu yg digunain bukan bahasa indonesia seperti sekarang
    mana mungkin udah keluar yang namanya kata darah. coba pelajari lagi munculnya bahasa indonesia tahun berapa bandingkan dengan tahun saat hidupnya sang ratu darah putih/ bahasa melayu kuno nya darah itu apa karna bahasa yg digunakan saat itu kebanyakan melyu kuno belum ada bahasa indon. hehe
    kalo belajar sejarah diteliti yang bener .. sumbernya jangan dari cerita2 aja ditambahin bukti otentik lainnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya rasa jika mau bicara bicara soal logika, amat sangat beda dengan pola pikir manusia jaman skrg.
      jarak tempuh, dulu dengan sekarang berbeda, komunikasi tidak seperti sekarang, kehidupan kerajaan jaman dulu tidak sesantaian seperti sekarang ini yg hanya standby di istana makan enak dll.

      saya rasa sebagai seorang yg menyandang status Wali meskipun seorang raja dia tidak duduk santai menikmati harta, begitupun putra putra. jika mereka hanya duduk diam, misi menyebarkan agama mungkin hanya sebatas cirebon bae kang.

      setiap putra dari wali tsb sudah tentu membantu misi sang wali.

      selalu ada maksud dibalik maksud mas.

      kalo ceritanya seperti yg anda bilang, mungkin kehidupan nya berbeda.

      balik soal logika, kenapa Ratu darah putih tidak diperbolehkan pulang ke Pugung? padahal tanah juga masyarakat nya masih berada disana.

      Selain misi penyebaran agama Kenapa malah di ditugasi menimbang air mana yg berat maka disanalah tempat dia akan mendirikan Keratuan nya.


      masalah bahasa Darah, saya juga kurang paham bahasa Cirebon nya Darah itu apa.
      tapi saya pernah baca dalam perjanjian antara Ratu Darah Putih dengan Pangeran Sabakiking, itu memang bertuliskan Ratu darah putih.. dalam huruf Arab tapi berbahasa logat banten.


      Banyak hal yg tidak masuk akal manusia jaman skrg.
      itu sebab nya Wali itu tidak banyak.

      Hapus
  5. ** catatan asal cocok **
    Peran Wali Songo selain dakwah juga secara tidak langsung melakukan penaklukan halus secara diplomatis dg menikahi putri2 dari pengusa setempat.... Dan itu secara otomatis juga dapat dikatakan upaya "jawanisasi" mengingat gelar2 yang dipakai bangsawan2 keturunan Sunan Gunung Jati mirip dgn yang dipakai bangsawan2 dari Jawa. Dan pada akhirnya jika kita memakai adat yg lazim dipakai adalah patriarki maka Ulun Lampung itu juga orang Jawa karena Bapak moyang mereka seorang Wali dari Kerajaan Jawa ( walau aslinya Sunan Gunung Jati berasal dari negeri Persia)..... Jadi Jawa-Cirebon-Lampung ( mungkin banyak lagi dr garis Ayah) adalah sedarah... dan sodara.... Jadi sesama sodara mari kita jaga Tanoh Lada Lampung ini tetap DAMAI dalam kerukunan Persaudaraan.

    BalasHapus
  6. sejak jaman dulu sejarah selalu dibumbui mitos mitos yang tentu saja kita bisa petik hikmahnya.

    BalasHapus

Posting Komentar